Family members say goodbye to a child through a fence at the ghetto's central prison where children, the sick, and the elderly were ... [LCID: 89772]

Anak-anak saat Holocaust

Yang paling rentan pada saat Holocaust adalah anak-anak. Nazi mendukung pembantaian anak-anak dari kelompok yang “tak diinginkan” atau “membahayakan” sesuai dengan pandangan ideologi mereka, baik sebagai bagian dari “perjuangan rasial” atau sebagai langkah preventif demi keamanan. Jerman dan para kolaboratornya membunuhi anak-anak baik karena alasan ideologis ini maupun sebagai pembalasan dendam atas pelaku, atau yang dituduh, serangan partisan.

Jerman dan kolaboratornya membantai sebanyak 1,5 juta anak-anak, termasuk lebih dari satu juta anak-anak kaum Yahudi dan puluhan ribu anak-anak Roma (Gipsi), anak-anak Jerman yang cacat fisik maupun mental dan yang tinggal di yayasan, anak-anak Polandia, serta anak-anak yang tinggal di wilayah pendudukan Uni Soviet. Kesempatan hidup lebih besar bagi orang Yahudi dan non-Yahudi yang masih remaja (berusia 13-18 tahun), karena mereka dapat dipekerjakan sebagai pekerja paksa.

Nasib anak-anak Yahudi dan non-Yahudi dapat dibagi dalam beberapa kategori berikut: 1) anak-anak yang dibunuh saat mereka tiba di pusat pembantaian; 2) anak-anak yang dibunuh begitu dilahirkan atau tiba di yayasan; 3) anak-anak yang dilahirkan dalam ghetto atau kamp dan bertahan hidup karena tahanan menyembunyikannya; 4) anak-anak, biasanya di atas 12 tahun, yang digunakan sebagai pekerja dan target eksperimen medis; dan 5) anak-anak yang dibunuh saat operasi balas dendam atau disebut operasi antipartisan.

Di ghetto-ghetto, anak-anak Yahudi banyak yang mati kelaparan, terpajan cuaca jahat alam terbuka, serta kurangnya pakaian maupun naungan yang memadai. Pemerintah Jerman tidak mengacuhkan kematian massal ini karena mereka menganggap kebanyakan anak-anak di dalam ghetto itu tidak produktif dan karena itu dianggap “tukang makan tak berguna.” Oleh karena anak-anak umumnya terlalu muda untuk dipekerjakan sebagai pekerja paksa, pemerintah Jerman biasanya memasukkan mereka ke dalam kelompok orang tua, orang sakit, dan cacat, untuk deportasi pertama ke pusat pembantaian, atau dijadikan korban pertama yang dibawa ke kuburan massal untuk ditembak.

Setibanya di Auschwitz-Birkenau dan pusat pembantaian lainnya, sebagian besar anak-anak langsung dikirim ke kamar gas oleh penguasa kamp. SS dan polisi di wilayah Polandia dan Uni Soviet yang diduduki Jerman menembaki ribuan anak-anak yang berdiri di sisi lubang kuburan massal. Terkadang pemilihan anak-anak mana saja yang dikirim pertama ke pusat pembantaian atau yang dijadikan korban operasi penembakan pertama didasarkan pada keputusan yang menyakitkan dan kontroversial dari ketua dewan Yahudi (Judenrat). Keputusan oleh Judenrat di Lodz pada bulan September 1942 untuk mendeportasikan anak-anak ke pusat pembantaian Chelmno adalah satu contoh pilihan tragis yang dilakukan orang dewasa ketika dihadapkan pada tuntutan Jerman. Janusz Korczak, direktur panti asuhan di ghetto Warsawa, tetapi, dia menolak meninggalkan anak-anak yang berada di bawah pengasuhannya ketika mereka dipilih untuk dideportasi. Dia menemani anak-anak asuhannya selama dalam perjalanan ke pusat pembantaian Treblinka dan ke kamar gas, turut mati bersama mereka.

Anak-anak non-Yahudi dari kelompok tertentu yang menjadi target juga ikut dibantai. Misalnya anak-anak dari Roma (Gipsi) dibunuh dalam kamp konsentrasi di Auschwitz; 5.000 hingga 7.000 anak-anak dibunuh sebagai korban program “eutanasia;” anak-anak yang dibunuh sebagai balas dendam, kebanyakan anak-anak dari Lidice; dan anak-anak di pedesaan Uni Soviet yang diduduki dibunuh bersama orang tua mereka.

Pemerintah Jerman juga memenjarakan sejumlah anak-anak dalam kamp konsentrasi dan kamp transit. Dokter dan peneliti medis SS menggunakan sejumlah anak, termasuk anak kembar, dalam kamp konsentrasi sebagai target eksperimen medis yang sering mengakibatkan kematian anak-anak tersebut. Penguasa kamp konsentrasi mempekerjakan para remaja, terutama remaja Yahudi, sebagai pekerja paksa di kamp-kamp konsentrasi. Kebanyakan dari mereka mati karena kondisi ini. Pemerintah Jerman menahan anak-anak lain dalam kondisi yang menyedihkan di kamp-kamp transit, misalnya kasus Anne Frank dan saudarinya di Bergen-Belsen serta anak-anak non-Yahudi yatim-piatu yang orang tuanya dibunuh oleh tentara dan polisi Jerman dalam apa yang dinamakan dengan operasi antipartisan. Sebagian dari anak yatim-piatu ini ditahan sementara di kamp konsentrasi Lublin/Majdanek dan kamp tahanan lainnya.

Dalam upaya "pencarian ‘darah ras Arya,'" para ahli ras SS memerintahkan agar ratusan anak-anak di wilayah Polandia dan Uni Soviet yang diduduki diculik dan ditransfer ke Reich untuk diadopsi oleh keluarga Jerman yang rasnya sesuai. Meskipun dasar dari keputusan ini adalah “ras-ilmiah,” sering kali rambut pirang, mata biru, atau kulit putih sudah cukup memadai untuk mendapat “kesempatan” “Dijermankan.” Sebaliknya, penduduk sipil wanita dari Polandia dan Soviet yang telah dideportasikan ke Jerman untuk dijadikan pekerja paksa dan memiliki hubungan seks dengan pria Jerman -- sering kali di bawah tekanan -- sehingga hamil dipaksa menggugurkan kandungannya atau melahirkan bayinya dalam kondisi yang akan mengantarkan pada kematian si bayi, jika “ahli ras” menetapkan bahwa kandungan darah Jerman pada anak tersebut tidak memadai.

Meski berada dalam kondisi yang sangat rentan, banyak anak yang menemukan cara untuk bertahan hidup. Anak-anak menyelundupkan makanan dan obat-obatan ke dalam ghetto, setelah ditukar dengan barang-barang pribadi yang diselundupkan keluar ghetto. Anak-anak yang ikut pergerakan pemuda kemudian turut serta dalam kegiatan perlawanan bawah tanah. Banyak anak-anak yang kabur bersama orang tua atau saudara mereka -- terkadang sendiri -- ke kamp keluarga yang dikelola oleh partisan Yahudi.

Antara tahun 1938 dan 1940, Kindertransport (Transportasi anak) merupakan nama tak resmi untuk upaya penyelamatan ribuan pengungsi anak Yahudi (tanpa orang tua mereka) ke tempat aman di Inggris dari wilayah Nazi Jerman dan wilayah yang diduduki Jerman. Sebagian anak non-Yahudi menyembunyikan anak Yahudi dan terkadang, seperti dalam kasus Anne Frank, juga menyembunyikan anggota keluarga lainnya. Di Prancis, hampir seluruh penduduk Le Chambon-sur-Lignon yang beragama Protestan, juga banyak pendeta Katolik, biarawati, dan penganut Katolik awam, menyembunyikan anak-anak Yahudi di kota tersebut dari tahun 1942 hingga 1944. Di Italia dan Belgia, banyak anak-anak yang bertahan hidup dalam persembunyian.

Setelah Nazi Jerman menyerah, yang mengakhiri Perang Dunia II, para pengungsi dan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal menelusuri seluruh Eropa mencari anak-anak yang hilang. Ribuan anak yatim-piatu berada dalam kamp orang terlantar. Banyak anak-anak Yahudi yang selamat meninggalkan Eropa timur sebagai bagian dari eksodus massal (Brihah) ke wilayah barat Jerman yang diduduki, dalam perjalanan menuju Yishuv (koloni baru Yahudi di Palestina). Melalui program Youth Aliyah (Imigrasi Pemuda), ribuan orang bermigrasi ke Yishuv, dan kemudian ke negara Israel setelah pembentukannya pada tahun 1948.